Penulis: Berly Reastama/Ketua DPD PGK Bandar Lampung
Bandar Lampung–Di Negeri ini, suara kebenaran sering kali tenggelam di antara tumpukan retorika manis dan pencitraan. Begitu pula di Bandar Lampung, di mana hiruk pikuk politik lokal perlahan memperlihatkan wajah aslinya wajah yang mulai lelah mempertahankan idealisme, tapi begitu bersemangat ketika kepentingan mengetuk pintu.
Beberapa hari lalu ruang publik kembali diramaikan oleh narasi manis tentang niat baik, sinergi, dan kerja sama antarlembaga. Katanya, semua demi pelayanan publik yang lebih transparan dan profesional. Namun entah mengapa kalimat-kalimat itu justru terasa seperti selimut halus yang menutupi sesuatu yang mulai berbau. Sebab masyarakyat yang hidup di sekitar TPA Bakung tak pernah mencium wangi niat baik itu. Yang mereka hirup hanyalah aroma lindi yang mencemari sungai dan mengalir ke sumur mereka.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Lucu memang. Di atas kertas semua tampak indah dan penuh alasan logis. Tapi ketika menilik di lapangan kenyataan berkata lain, dana hibah puluhan miliar rupiah yang disebut sebagai bentuk sinergi justru menimbulkan pertanyaan apakah benar uang rakyat itu kembali untuk kepentingan rakyat? Ataukah justru mengalir untuk memperkuat relasi kekuasaan yang kian nyaman dalam bayang-bayang saling menjaga?
Kita hidup di masa ketika banyak orang gemar menulis pembelaan tapi enggan menatap kenyataan. Mereka menulis seolah memahami penderitaan rakyat, padahal yang mereka pahami hanyalah kepentingan yang mesti diamankan mereka berbicara tentang kebijakan, tapi lupa bahwa kebijakan tanpa nurani hanya akan melahirkan ketimpangan baru.
Yang paling menyedihkan adalah ketika orang-orang yang dahulu dikenal idealis yang dulu berani bicara lantang atas nama rakyat dan kebenaran kini berubah menjadi penganut kebijakan setengah sadar.
Mereka menulis bukan lagi dengan pena nurani, melainkan dengan pena kedekatan. Kritik yang dulu tajam kini tumpul digantikan oleh pujian lembut yang terdengar seperti doa bagi penguasa.
Mereka lupa, idealisme sejatinya bukan barang dagangan yang bisa ditukar dengan posisi atau kedekatan. Idealisme adalah kompas moral yang seharusnya tetap menunjuk ke arah kebenaran bahkan ketika arah angin politik itu berubah. Ketika kompas itu mulai dimiringkan demi kenyamanan, maka yang tersisa hanyalah sikap pragmatis yang dibungkus dengan kata “sinergi”.
Fenomena ini bukan hal baru, tapi semakin sering kita lihat bagaimana kritik mulai dianggap gangguan, dan pembelaan terhadap kekuasaan justru dipuji sebagai loyalitas. Padahal yang disebut loyalitas sejati adalah keberanian untuk menegur ketika kekuasaan mulai melenceng dari koridor yang digariskan bukan ikut bertepuk tangan di saat rakyat sedang mengeluh.
Mungkin inilah wajah zaman kita hari ini, di mana idealisme semakin langka, dan kepentingan dijual di setiap sudut dengan harga yang tampak murah tapi berbiaya besar bagi masa depan.
Dan jika keadaan ini terus dibiarkan, maka suatu hari nanti kata perjuangan hanya akan tinggal sebagai slogan di spanduk, Sementara maknanya telah hilang bersama nurani yang digerus oleh kepentingan.









