LAMPUNG TIMUR, Sinang.ID – Markas Besar Tentara Nasional Indonesia (Mabes TNI) menggelar safari penyuluhan ke 22 desa penyangga Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Kabupaten Lampung Timur.
Kegiatan yang berlangsung selama 28 hari ini bertujuan memperkuat sinergi pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sekaligus menyerap aspirasi masyarakat di kawasan penyangga TNWK.
Salah satu agenda dipusatkan di Balai Desa Braja Harjosari. Jajaran Mabes TNI berdialog langsung dengan perangkat desa dan elemen masyarakat melalui forum bertajuk Sambung Rasa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tim Penyuluh Mabes TNI, Laksamana Pertama (Laksma) TNI Bambang Dharmawan, mengatakan safari penyuluhan ke 22 desa tersebut dilaksanakan atas perintah pimpinan TNI sebagai langkah preventif yang menyentuh langsung masyarakat.
“Kami dari Mabes TNI mendapatkan perintah pimpinan melaksanakan penyuluhan kepada masyarakat desa sebagai penyangga kawasan Taman Nasional Way Kambas. Tujuannya agar lokasi di sekitar taman nasional ini bisa terjaga dan tidak terjadi kebakaran lagi, karena dari tahun ke tahun biasa terjadi kebakaran,” ujar Laksma TNI Bambang Dharmawan, Selasa (1/9/2026).
Bambang menegaskan, pendekatan di 22 desa penyangga dilakukan melalui diskusi dua arah untuk membangun komitmen bersama dalam menjaga kawasan konservasi.
Dalam sosialisasi tersebut, Mabes TNI menekankan bahwa pencegahan karhutla membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari masyarakat, pemerintah desa, TNI-Polri, tokoh masyarakat, hingga akademisi.
Bambang juga mengingatkan warga untuk mengenali berbagai faktor penyebab karhutla, baik faktor alam maupun aktivitas manusia, seperti pembukaan lahan dengan cara membakar dan kelalaian dalam kegiatan pertanian.
Kondisi vegetasi yang kering dan angin kencang dapat membuat api cepat meluas dan menimbulkan dampak terhadap kesehatan, perekonomian, hingga kelestarian satwa, termasuk Gajah Sumatera.
“Kita berbicara dengan masyarakat, menyerap aspirasi masyarakat, memberikan arahan dan pengetahuan, sekaligus berdiskusi bagaimana kita bersama-sama antara TNI dan masyarakat bisa manunggal untuk mencegah terjadinya kebakaran pada tahun-tahun berikutnya. Alhamdulillah apa yang kita laksanakan ini dapat diterima dengan baik,” lanjutnya.
Dalam materi edukasi, Mabes TNI mendorong masyarakat membudayakan langkah deteksi dini dan lapor cepat melalui empat tahapan, yakni Lihat dan Waspada, Pastikan Lokasi, Segera Laporkan, serta Arahkan Petugas.
Masyarakat juga diimbau tidak membakar sampah maupun lahan, rutin mengelola vegetasi kering, serta mengaktifkan ronda kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA) di tingkat dusun dan desa.
Kegiatan di Balai Desa Braja Harjosari tersebut mendapat sambutan antusias dari warga setempat.
Perwakilan warga Desa Braja Harjosari, Ida Bagus Made, mengapresiasi kesediaan tim Mabes TNI turun langsung ke desa-desa penyangga selama hampir satu bulan.
“Kami warga Desa Braja Harjosari dengan senang hati dan berterima kasih serta mengapresiasi bahwasanya ada tim dari TNI untuk penanganan karhutla yang terjadi di Way Kambas. Perhatian beliau sangat luar biasa. Mudah-mudahan energi yang beliau bawa dari pusat sampai turun ke bawah bisa kami serap dan kami salurkan,” ungkap Ida Bagus.













